Legenda Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Kutai

legenda-asal-usul-raja-raja-suku-tunjung-kutai

Legenda Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Kutai – Suku Tunjung merupakan satu dari 28 anak suku Dayak yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Mereka beberapa besar mendiami tepian Sungai Mahakam dan Sungai Bengkalang. Pada zaman dahulu, suku ini dipimpin oleh raja secara turun-temurun. Siapakah raja pertama suku Tunjung yang lantas turunkan raja-raja berikutnya? Temukan jawabannya di dalam cerita Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Dayak tersebut ini!

Legenda Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Kutai

legenda-asal-usul-raja-raja-suku-tunjung-kutai

ravensnfljerseyshop.com – Di tempat Kalimantan Timur, tersedia dua orang bersaudara yang bernama Gah Bogan dan Suman. Gah Bogan tinggal di Negeri Linggang yang terletak tidak jauh dari Sungai Bengkalang. Sementara itu, Suma menetap di Negeri Londong, sebelah kanan mudik Sungai Mahakam.

Suatu hari, istri Gah Bogan yang bernama Gah Bongek melahirkan anak kembar delapan. Barangkali karena alasan tidak dapat menghidupi kedelapan anak tersebut agar pasangan suami istri itu mengambil keputusan untuk melenyapkan anak-anak mereka ke Sungai Mahakam.

Beberapa tahun kemudian, Gah Bongek lagi melahirkan anak kembar delapan. Keduanya pun bersepakat melenyapkan kedelapan anak mereka ke tengah hutan. Ketika istri Gah Bogan lagi melahirkan yang ketiga kalinya dan mendapatkan anak kembar delapan lagi, akhirnya mereka pun mengambil keputusan untuk menjaga dan membesarkan kedelapan anak tersebut. Kedelapan anak itu mereka beri nama Sangkariak Igas, Sangkariak Laca, Sangkariak Lani, Sangkariak Inggih, Sangkariak Injung, Sangkariak Kebon, Sangkariak Lanan, dan yang paling bungsu adalah Sangkariak Daka.

Waktu tetap berjalan. Kedelapan bersaudara itu tumbuh dewasa dan mereka mendirikan permukiman di pinggiran Sungai Bengkalang. Sehari-hari mereka mencari ikan di sungai untuk memenuhi keperluan mereka. Suatu hari, waktu mereka tengah makan bersama, tiba-tiba terdengar suara gaib dari langit.

“Jo jo sambut disambut mati, tidak sambut mati,” demikianlah kata suara itu.

“Ulur mati habis, tidak terulur mati lumus,” sahut Sangkariak Kebon menjawab suara itu.

Selang beberapa waktu kemudian, tiba-tiba sebuah kelengkang (sejenis keranjang) yang teulur bersama tali seolah-olah turun dari langit. Ternyata kelengkang itu berisi seorang bayi laki-laki tampan yang menggenggam sebutir telur di tangan kanannya. Alangkah senangnya hati mereka mendapat hadiah tersebut dari Ape Bongan Tana (Tuhan Yang Mahakuasa).

Oleh Sangkariak Igas, bayi itu diberi nama Aji Julur Dijangkat. Telur yang tersedia digenggaman bayi itu mereka simpan bersama baik. Beberapa hari kemudian, telur itu pun menetas menjadi seekor ayam jantan dan diberi nama Jong Perak Kemudi Besi. Dengan penuh kasih sayang, kedelapan bersaudara tersebut menjaga dan membesarkan bayi dan ayam jantan itu hingga dewasa.

Sementara itu, istri Suma termasuk melahirkan delapan orang anak, enam laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Kemunduk Bengkong, Kemunduk Kandangan, Kemunduk Murung, Kemunduk Jumai, Kemunduk Jangkak, Kemunduk Mandar, Kemunduk Bulan, dan Kemunduk Beran. Kini, kedelapan putra-putri Suma tersebut termasuk udah beranjak dewasa. Sehari-hari mereka mencari kayu bakar di hutan dan menangkap ikan di Sungai Mahakam.

Suatu hari, kedelapan bersaudara itu baru saja pulang dari hutan mencari kayu bakar. Hari itu, mereka tidak hanya mempunyai kayu bakar, tapi termasuk bambu petung untuk digunakan sebagai lantai rumah. Ketika mereka tengah asyik melepaskan capek di depan rumah, tiba-tiba terdengar suara letusan keras disusul suara tangis seorang bayi beberapa waktu setelahnya. Kedelapan bersaudara itu pun segera terkejut dari tempatnya.

“Hai, suara apa itu?” bertanya Kemunduk Kandangan.

“Sepertinya suara letusan itu berasal dari tumpukan kayu bakar yang kami bawa tadi,” sahut Kemunduk Mandar.

“Kalau begitu, ayo kami periksa!” seru Kemunduk Bengkong.Setelah memeriksa sumber suara letusan tersebut, ternyata bambu petung yang dibawa oleh Kemunduk Bengkong tadi meledak dan mengeluarkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik rupawan. Bayi itu tergeletak di atas puing-puing bambu petung yang meledak tadi.

“Hai, lihat!” seru Kemunduk Jangkak, “Di tangan bayi itu tergenggam sebutir telur ayam.”

Kemunduk Bengkong pun segera menyita telur ayam itu lantas menggendong sang bayi. Oleh kedelapan bersaudara tersebut, bayi itu diberi nama Muk Bandar Bulan yang bermakna “putri menerangi negeri”. Sementara itu, telur ayam itu mereka menempatkan di tempat yang aman. Tak berapa lama kemudian, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam betina. Sama halnya kedelapan anak Goh Bogan, Kemunduk Bengkong berserta saudara-saudaranya menjaga dan membesarkan bayi dan anak ayam tersebut hingga dewasa.

Putri Muk Bundar Bulan tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas dan bijaksana. Tak mengherankan kecuali ia diangkat menjadi ratu di sebuah negeri yang bernama Tanah Tunjung. Sejak itu, Ratu Negeri Tunjung itu sering lakukan kunjungan ke negeri-negeri tetangga, termasuk Negeri Linggang.

Suatu hari, Ratu Muk Bundar Bulan mendengar kabar bahwa di Negeri Linggang tersedia seekor ayam jantan yang berbulu putih, berjambul, dan berjambing. Ayam jantan itu tak lain adalah si Jong Perak Kemudi Besi milik Aji Julur Dijangkat. Sang ratu terlalu tertarik idamkan membeli ayam jantan itu untuk dijadikan sebagai pasangan ayam betinanya. Ia pun mengajak Kemunduk Bengkong bersaudara untuk mengunjungi negeri itu.Keesokan hari, Ratu Muk Bundar Bulan beserta rombongannya berangkat menuju ke Negeri Linggang bersama menggunakan sepuluh perahu. Rupanya, terhadap waktu yang bersamaan, Aji Julur Dijangkat beserta Sangkariak Igas bersaudara termasuk tengah lakukan perjalanan menuju ke Negeri Londong bersama mempunyai sepuluh perahu. Akhirnya, kedua rombongan tersebut bersua di ujung Rantai Genoli dan mereka pun bersepakat untuk berhenti di Negeri Rantau Batu Gonali.

Saat kedua rombongan saling berhadapan, kedua ayam yang tersedia terhadap tiap-tiap rombongan itu saling menyahut. Hal itu tandanya bahwa kedua ayam tersebut saling menyukai. Tidak hanya itu, kedua pemilik ayam tersebut, yakni Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan ternyata termasuk saling jatuh hati.

“Kakanda bernama Sanghiyang Geragas Pati, anak Raja Sanghiyang Nata Dewi Kencana Peri dari Negeri Bukit Karangan Sari,” kata Muk Bandar Bulan kepada Aji Julur Dijangkat.

“Nama Adinda pastilah Putri Ringsa Bunga, anak Sanghiyang Naga Salik bersama Bunda Dewi Randayan Bunga dari Negeri Gunung Asmara Cinta,” sahut Aji Julur Dijangkat.

Rupanya, pemuda tampan dan gadis cantik jelita yang berasal dari Negeri Kahyangan itu ternyata udah saling mengenal satu mirip lain. Oleh karena menjadi sesuai dan udah saling mengenal asal-usul masing-masing, akhirnya Aji Julur Dijingkat dan Muk Bandar Bulan menikah dan sesudah itu mereka menetap di Negeri Rantau Batu Gonali. Seluruh masyarakat Negeri Linggang dan Negeri Londong pun ubah dan turut menetap di negeri itu.

Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar lantas membuat rumah panjang yang terbuat dari kayubenggeris. Rumah panjang itu diberi nama Lamin. Hingga kini, rumah ini menjadi rumah tradisional khas Suku Dayak Tunjung di Kalimantan Timur. Sebagai bukti bahwa mereka berasal dari Kahyangan, tiap-tiap mempunyai dua biji pinang sendawar. Dua buah biji pinang milik Aji Julur Dijangkat mereka simpan untuk dimakan bersama, sedang dua buah biji pinang milik Muk Bandar Bulan mereka tanam di halaman rumah. Sejak itulah, negeri Rantau Batu Gonali berpindah nama menjadi negeri Pinang Sendawar.

Setelah beberapa tahun kemudian, Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan dikaruniai empat orang anak laki-laki. Mereka adalah Sualis Guna, Nara Gama, Jeliban Bona, dan Puncan Karna. Dalam asuhan kedua orang tua bersama penuh kasih sayang, mereka pun tumbuh dewasa. Suatu hari, sang ayah memanggil mereka untuk menghadap.

“Dengarkanlah, wahai putra-putraku! Kini ayah udah tua. Sudah saatnya Ayah menunjuk salah satu di antara kalian untuk mengambil alih kedudukan Ayah sebagai pemimpin negeri ini,” ungkap Aji Julur Dijingkat di hadapan putra-putranya dan disaksikan oleh sang istri.

Kemududuk Bengkong dan adik-adiknya saling menatap satu mirip lain. Masing-masing berharap dirinyalah yang akan ditunjuk oleh sang ayah. Namun, Aji Julur Dijangkat adalah raja yang adil dan bijaksana.

“Ayah tidak akan menunjuk segera salah seorang di antara kalian. Ayah pikir bahwa akan lebih adil kecuali diselenggarakan lomba menyeberangi sungai sambil mempunyai gong sebanyak tujuh kali pulang pergi. Siapa pun di antara kalian yang memenangi lomba tersebut maka dialah yang berhak mengambil alih Ayah,” ujar sang ayah, “Apakah kalian sepakat bersama langkah ini?”

Sualas Guna dan adik-adiknya pun setuju. Pada hari yang udah ditentukan, perlombaan menyeberangi sungai antara keempat bersaudara tersebut siap dimulai. Seluruh rakyat pun berondong-bondong untuk menyaksikan perlombaan tersebut. Setelah gong berbunyi tandanya lomba udah dimulai, para peserta lomba pun menjadi mengeluarkan kemampuan masing-masing. Sualas Guna yang mendapat giliran pertama ternyata gagal terhadap waktu memasuki putaran keenam. Demikian pula, Nara Gama dan Jeliban Bona yang mendapat giliran kedua dan ketiga termasuk gagal yakni tiap-tiap terhadap putaran keempat dan kelima.

Sebagai peserta terakhir, Puncan Karna yang udah mempelajari kesalahan-kesalahan kakak-kakaknya dan disempurnakan bersama kekuatannya yang luar biasa akhirnya dapat memenangkan lomba itu. Meskipun dinyatakan sebagai pemenang, putra bungsu Aji Julur Dijangkat itu tidak menjadi diangkat menjadi Raja Pinang Sendawar karena ia wajib pergi ke Kutai Kartanegara atas kemauan Dewata melalui mimpi sang ayah,

Pada malam sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Puncan Karna mendapat pesan dari Sanghyang Naga Salik atau neneknya melalui mimpi bahwa Raja Negeri Kutai yang bernama Maharaja Sultan mempunyai enam orang anak. Dua di antaranya adalah putri yakni Aji Dewa Putri dan Aji Ratu Putri. Menurut sang nenek, Aji Ratu Putri itulah yang akan menjadi jodohnya.

Keesokan hari, berangkatlah Puncan Karna ke Negeri Kutai disertai oleh beberapa orang pengawal. Setiba di istana Kutai, pemuda tampan dan perkasa itu segera menikahi Aji Ratu Putri dan mereka pun hidup berbahagia. Selang beberapa tahun kemudian, gunakan suami istri itu dikaruniai beberapa putra yang secara turun-temurun menjadi Raja-raja Tunjung.

* * *

Demikian cerita Asal Usul Raja-Raja Tunjung dari Kalimantan Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah pentingnya keutamaan pembawaan adil sebagaimana yang dimiliki oleh Aji Julur Dijangkat. Untuk menunjuk salah satu putranya yang akan mengambil alih dirinya sebagai raja, ia mengadakan lomba menyeberangi sungai dan pemenangnyalah yang berhak atas kedudukan tersebut. Dengan demikian, maka tidak akan tersedia kecemburuan di antara putra-putranya.

Legenda Asal Usul Raja-Raja Suku Tunjung Kutai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top